Tinggalkan komentar

Selamat Tahun Baru!

Selamat Tahun Baru!

Iklan
Tinggalkan komentar

Kicau Kekacauan

jikalau aku perempuan
agaknya aku ini Cinderella
kisahnya penuh haru
dituliskan dalam kurung dan kekang

menyudutkan pada perjuangan
datangnya satu waktu
hadiah pangeran dari sutradara

namun,
aku ini lelaki
rupawan bagai si buruk
hidup berliku dan depresi cinta

maka tetap bersabar dalam penantian
datangnya satu waktu
belenggu sihir dilenyapkan
digantikan oleh eloknya bibir si cantik

atau mungkin,
aku ini Aladin?
dituliskan kisah tentangku
maka, jadilah aku melarat
merasakan nikmatnya direnggut

sampai datang satu waktu
permadani dan lampu ajaib
datang menolong
merebut hati sang puteri

dan itulah kisah fiktif
yang semakin terasa memojokkanku

sampai datang waktu apa ku harus menanti?
sampai datangkah penyesalan?

tidak,
semua dimulai hari ini

[kicau kekacauan]
-arif harta-

Tinggalkan komentar

Iri Kepada Hujan

Di kesyahduan petir
hujan…
Kota ini banjir
menampakkan wajah asli

Entah hobi atau apa,
hal yang sama terus berulang
Menambah daftar musim baru
Selalu…

Dan dalamnya lamunanku
aku terusik
oleh mesranya
bapak ibu nasi goreng
di dekat pengkolan jalan

Walau lebat hujan turun
dan banjir kecil menghalau langkah kaki
mereka masih saja bertukar senyum

Sesekali terlihat
menyimpangkan kerudungnya
Seolah memamerkan perhiasan padaku
Aku tau mereka sejahtera
walau terkesan sederhana

Dan aku pun tidak iri hati
Karena aku juga
merasakan hujan yang sama

Iri Pada Hujan
-Arif Harta-

Tinggalkan komentar

Do’aku Di Bawah Pelangi

\I\
Wahai angin, siapakah yang paling kuat di dunia ini?
Beritakanlah padaku siapa dia?
Tunjukan pula siapa diantaranya yang paling lemah

Dan angin pun berbisik keras…

Duhai petapa arif,
Engkau telah menanyakan hal yang benar
pada orang yang benar
Akulah yang terkuat
Tidakkah kau lihat aku bergerak bebas?
Mengitari dunia tanpa dihalang-halangi?
Menebarkan benih dan serbuk bebungaan
Seluruh kotamu wangi karena aku

Dan mengenai siapa yang paling lemah
Ialah awan yang tiada berpendirian
Terbang kian kemari
Mengikuti langkahku

Dia tahu…
Tiupanku mampu merobohkan apa pun
yang menghalangi jalanku
Murkaku adalah bencana
bagi siapa pun yang berani menentang
Apakah kau perlu pembuktiannya?

Atau kau lebih percaya pada awan?
Cobalah uji kami…

\II\
Wahai awan, beritahukanlah padaku…
Engkau mendengar angin
Dan mantapkan aku dengan jawabmu
Supaya aku bisa bergerak di atas keadilan

Duhai petapa arif,
Engkau telah menanyakan padaku
sesuatu yang engkau telah tahu jawabnya
Aku hanyalah penumpang angin
Aku tak kuasa merobohkan pohon
Pula tak cukup besar tuk menyapu kota

Tugasku hanyalah melayang
Menebarkan cinta
untukmu…
Untuk manusia dan tetumbuhan

Namun,
Aku tak pernah takut dan lari
Mengabaikan tantangan angin
Walau selama ini
Aku pun tak berani mengusiknya
Karena pendirianku adalah tetap
Dan inilah jawabku…

\III\
Kesepakatan telah tercapai
Janji telah terukir untuk mengatur
Jalannya pertandingan yang akan mengubah pola pikir
Menetapi hari yang telah ditentukan

Lihatlah di depanmu!
Ada kakek renta berjalan cepat-cepat
Tunjukanlah padaku
Jika kalian termasuk orang yang benar

Barang siapa mampu membuka ikatan
tali yang menggenggam payung
di tangan kakek itu
Dialah pemenangnya

Dan angin pun mengerahkan amalnya
namun kakek semakin kuat menggenggam
Badai besar membuat kakek takut
Ia berlari mencari perlindungan

Bertubi-tubi
Berkali-kali ia terjatuh
Namun payung itu tetap di sana
tak berpindah dari titik nyamannya
Seolah mempermalukan angin

Begitu cepatkah angin menyerah?

Hingga…
Sesaat setelah badai reda
Awan terlihat tersenyum
Mengepakkan sayap dan menggemukkan diri
Menggesekkan kulitnya menjadi kilau
Kilatan petir kecil-kecil

Kakek yang takut
kini diam dan menatap awan
Sorot matanya seolah sedang membaca
menafsirkan apa yang akan segera terjadi
Mengingatkan pada dingin hujan di desa

Lalu awan yang tulus menyiramnya dengan tetes-tetes rahmat

Hujan?
Alhamdulillah…
Aku kan bawa payung?
Ini dari istriku yang lima tahun lalu Allah menunjukkan padaku tentang cinta-Nya
pada dia

Semoga Allah merahmatimu di surga sana
Menggantikan hadiah ulang tahun terakhir darimu ini
dengan kesenangan yang abadi
Dengan hiasan, kemewahan
yang tak sanggup aku beri padamu
Dengan cita-cita yang tak sempat terwujud
Mewujudkan janji-janjiku yang tak pernah tercapai
Tenanglah nenek…
Tunggu aku…
Suatu hari aku pasti menjengukmu
Menuju keabadian…

Ya Tuhan,
Aku melihat payung kakek
dibuka dengan hati
ketulusan dan cinta
Bahkan, matahari pun ikut terharu
Dia mengintip dengan cengeng
Mengundang tawa pelangi
Menghiasi do’a dengan warna-warna
Menuju nenek di surga sana
melalui restu-Mu
Ya Tuhan…

Dan, awan…
Aku angin mengaku kalah darimu

Do’aku di Bawah Pelangi
-Arif Harta-

Tinggalkan komentar

Ada Dalam Sangkar

Siapakah gerangan yang mampu,
melarang burung peking kampung bernyanyi?
Mungkinkah sangkar emas tetap tak cukup kuat?
Menahan kicaunya meminta kebebasan
Jerit hatinya dipekikkan
Melalui sela-sela jeruji

Namun matanya tak terlihat sedang menangis?
Tapi juga paruhnya tak terkesan sedang tersenyum gembira?
Yang ada…
Tawa riang dari tuan yang sedang melihat burung kesayangannya bernyanyi tanpa henti
Sepanjang hari…

Geriknya meloncat-loncat
Mungkin saking girangnya?
Seperti anak kecil yang diberi mainan baru
Atau dia sedang berpayah susah?
Mencari jalan celah keluar?
Untuk sekedar menghirup udara kebebasan

Tuan sampai hati?
Tetap ketawa dan gembira?
Atau khawatir dia lari dan tak kunjung pulang?

Apapun itu…
Burung dalam sangkar yang sedang bernyanyi
Tetap bukan milikku

Ada Dalam Sangkar
-Arif Harta-

Tinggalkan komentar

Ada Rasa dari Jauh

Di sana nan jauh
di bawah langit yang sama
di bawah awan yang berbeda
Memandang ke atas
ke angkasa luas
Lalu menoleh ke barat
Merasakan angin perlahan
di waktu senja

Belaian tipisnya kini
Malah menyuburkan akar kerinduan
Antara dua hati yang terpisah jarak
Kesejukan desa dan bising kota industri
Antara senyuman hari yang hendak tidur
dan pekatnya asap menjelang maghrib

Antara damainya pepohonan rimbun
dan kokohnya beton menancap

Kotornya udara jalanan
Mengotori pikiran
Menyesakkan dada sepulang kerja

Menyumpal aliran darah yang lelah
Sampai-sampai berdesakan di jalan raya

Walaupun kaki terus melangkah
Namun,
Tak pernah terlintas dipikirnya itu
Mengenai bagaimana ia berjalan

Karena pikirinnya tiada padanya lagi
Dia melayang terbang ke satu tempat lain
di sana nan jauh

Di depan ayahnya yang berdo’a lagi bernyanyi
Sembari menyusur galengan sawah
Memikul cangkul terkasihnya
Ditemani cahaya senja dan angin nan pelan

Dan ayah dicengkeram rindu yang sama
Terbayang wajah putera kecilnya dulu
Yang kini terjerat asap kota industri
Mencari rejeki…

Kesuksesan ialah harapnya
Bagi dia, putera sematawayang yang dirindui
Itulah yang selalu ia selipkan dalam do’a
Sebagai inti permohonan pada Ilahi
Lagunya mengubah nasib
atau sekedar membangun istana kecil nan ceria

Dulu…
Sewaktu muda,
ia harapan keluarga
Namun dia sadar kini telah beda, sudah tidak perkasa lagi
Tetapi masih saja bekerja keras
Sembari mewariskan harapan pada penerusnya

Sang anak yang bahkan tak tau apa itu sukses
Anak yang tak mampu lupa desahan angin desa
Kedamaian yang menerpa jiwa
Memainkan lagu dedaunan
Mengalunkan harumnya puisi bunga

Baginya,
Sukses adalah bersama mereka
Ada di tempat yang hampir mirip dengan surga
Memercikkan air hujan di ujung kaki
Atau menepuk nyamuk di bawah pohon rambutan
Atau tertidur di tengah hari
Di bawah do’a tetumbuhan
Memandang kilauan keindahan

Namun, pendapat tetaplah pendapat
Tiap orang boleh bertafsir beda
Dan ini takkan lama
Karena Tuhan MahaKaya
Dia limpahkan segalanya
Dalam satu paket rahmat yang tak ternoda

Ada Rasa dari Jauh
-Arif Harta-

Tinggalkan komentar

Yang Engkau Tanam dan Yang Kau Tuai

Yang engkau tanam dan yang kau tuai
Adalah keterikatan dengan Ilahi
Yang Maha Menghitung…

Tak memerlukan keraguan
Karena ragu pada-Nya
Adalah tanda mengikisnya iman

Tanamlah cinta pada tiap langkah kaki
usapan tangan dan tutur kata
Supaya restu Ilahi menyertaimu
Membimbing
Menantingmu pada jalan lurus

Tanamkan rasa syukur pada hati
Jadikan sahabatmu merasa beruntung
Kau ada di dekapnya

Biarkanlah dirimu padanya
Melalui jalan yang hak
Hadiahkanlah dirimu
Sebagai pribadi yang dirindukan
Temukan arti tangisan dan senyuman
Tawa riang nan penuh cinta

Lalu ketahuilah olehmu
Kedua orang ibu bapakmu
Adalah sahabat terbaikmu

Dan
Yang engkau berikan padanya
Janganlah kau ungkit kau hitung-hitung
Karena Ialah yang berhak menghitung

Baik… Buruk…
Semua kan kau tuai

Yang Engkau Tanam dan Yang Kau Tuai
-Arif Harta-